TB Paru

Latar Belakang

                 Penyakit TB Paru merupakan penyakit menular dan kronis (menahun) yang telah lama dikenal oleh masyarakat luas dan ditakuti. Penyakit TB disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Kuman ini pertama kali ditemukan oleh Robert Koch. Kuman ini sangat kecil dan bersifat tahan terhadap larutan asam sehingga mendapat julukan  Basil Tahan Asam (BTA).

 

Kuman ini dapat ditemukan dalam dahak atau sputum orang yang sedang menderita TB. Sebagian besar kuman ini menyerang paru-paru, tetapi dapat juga menyerang organ tubuh lainnya. Kuman ini timbul disebabkan karena lingkungan yang kotor dan lembab, ekonomi yang rendah dan dari keluarga yang mengidap penyakit TB Paru. Pada lingkungan yang kotor dan lembab kuman TB dapat bertahan hidup beberapa jam, kuman ini masuk kedalam tubuh dan tertidur lama selama beberapa tahun. Dan saat imunitas orang yang diserang rendah, maka orang tersebut akan menjadi sakit (Misnadiarly, 2006)

Salah satu penyebab kuman ini timbul karena keadaan ekonomi yang rendah pada keluarga sehingga akan mempengaruhi keadaan gizi, adanya defisiensi gizi menyebabkan daya tahan tubuh yang lemah sehingga memudahkan kuman Mycobacterium tuberculosis berkembang biak dengan cepat. Cara penularan TB Paru terjadi pada waktu penderita itu batuk dan bersin, penderita menyebarkan kuman keudara dalam bentuk percikan dahak (droplet). Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan diudara dan bila droplet tersebut terhirup kedalam saluran pernapasan akan beresiko menginfeksi orang tersebut.

Penyakit TB dapat dihindari dengan cara menutup mulut saat batuk dan bersin, tidak meludah disembarang tempat, tidak merokok dan minum-minuman beralkohol, berolah raga teratur, menjaga agar tempat tinggal / rumah tidak gelap, lembab dan ventilasi udara harus cukup baik, sinar matahari bisa masuk ke dalam ruangan karena kuman TB dapat mati karena cahaya matahari. Dengan demikian infeksi atau kuman yang masuk ke dalam tubuh lewat pernapasan dapat dicegah dan dikurangi jumlahnya. Disamping itu daya tahan tubuh harus dijaga dengan mengkonsumsi makanan yang bergizi baik serta mendapatkan vaksinasi BCG.

Dari hasil System Pencatatan dan Laporan Terpadu Puskesmas (SP2TP) dalam kurun waktu 5 bulan terakhir (Januari – Mei 2009) menunjukkan jumlah kunjungan Puskesmas I Denpasar Timur sebanyak 11.905, dimana 25 kasus dengan proporsi 0,20% diantaranya adalah TB Paru.

Berdasarkan data tersebut, masih banyaknya ditemukan kasus TB Paru. Jika hal tersebut tidak ditanggulangi maka akan timbul berbagai macam komplikasi yaitu : pasien tidak sembuh, kekambuhan, penyebaran kuman dalam bentuk percikan dahak (droplet) yang disebabkan karena pasien tidak rajin minum obat dan tidak menjaga kebersihan lingkungan hal tersebut didukung oleh faktor kurangnya pengetahuan pasien dan keluarga tentang cara penularan penyakit TB Paru. Namun bagaimana pun tuhan tidak akan menurunkan suatu penyakit tanpa menurunkan pula obatnya. TB dapat disembuhkan dengan minum obat anti TB dengan betul yaitu teratur sesuai petunjuk dokter atau petugas kesehatan lainnya.

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka penulis tertarik mengangkat kasus TB Paru pada Klien MS keluarga Bapak KS dengan Alamat JL. Kecubung Gang Suli, yang merupakan keluarga binaan Wilayah Kerja Puskesmas I Denpasar Timur dengan harapan ada manfaatnya bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya, tidak terjadi penularan, bisa menekan kasus TB Paru yang ada dimasyarakat demikian pula bagi bidang pendidikan untuk dapat meningkatkan asuhan keperawatan pada penderita TB Paru.

B.  Tujuan

  1. Tujuan umum

Untuk mendapatkan gambaran umum tentang asuhan keperawatan keluarga dengan TB Paru.

 

2.   Tujuan khusus

  1. Dapat melakukan pengkajian keperawatan keluarga dengan TB Paru.
  2. Dapat merencanakan tindakan keperawatan keluarga dengan TB Paru.
  3. Dapat melaksanakan tindakan keperawatan keluarga dengan TB Paru.
  4. Dapat melakukan evaluasi keperawatan keluarga dengan TB Paru.

 

  1. B.     Metode Penulisan

Adapun metode penulisan yang digunakan dalam penyusunan laporan kasus ini adalah dengan metode deskriptif yaitu metode mengambil suatu kasus pada pasien yang sedang mengikuti perawatan dan memberikan gambaran tentang kasus tersebut dalam asuhan yang diberikan mulai dari pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan  evaluasi dimana dengan menggunakan tehnik pengumpulan data, wawancara, observasi, studi dokumentasi dan pemeriksaan fisik.

  1. C.     Sistematika Penulisan

Secara garis besar laporan kasus ini terdiri dari empat bab yaitu Bab I Pendahuluan yang menguraikan tentang terdiri latar belakang, tujuan umum, tujuan khusus, metode penulisan dan sistematika penulisan. Bab II mencakup tentang tinjauan teoritis dan tinjauan kasus, tinjauan teoritis menguraikan tentang konsep dasar keluarga terdiri dari pengertian, keluarga, fungsi keluarga, tipe-tipe keluarga, danlimatugas keluarga dalam bidang kesehatan), konsep dasar teori penyakit TB Paru  terdiri dari pengertian, patofsiologi, WOC, pemeriksaan penunjang dan penatalaksanaan medis. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Keluarga terdiri dari Pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Sedangkan pada tinjauan kasus terdiri dari pengkajian, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi. Bab III Pembahasan, membandingkan antara kesenjangan teori dan kenyataan yang ditemukan di lapangan yang terdiri dari pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Bab IV Penutup  meliputi kesimpulan dan saran.

 

  1. Pengertian Keluarga

Keluarga adalah dua orang atau lebih yang disatukan oleh ikatan-ikatan kebersamaan dan ikatan emosional dan yang mengidentifikasikan diri mereka sebagai bagian dari keluarga. Friedman (1998, dalam Suprajitno, 2004).

Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat dibawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan Depkes RI (1998 dalam Effendy, 1998).

Sayekti (1994 dalam Suprajitno 2004) berpendapat bahwa keluarga adalah suatu ikatan/persekutuan hidup atas dasar perkawinan antara orang dewasa yang berlainan jenis yang hidup bersama atau seorang laki-laki atau seorang perempuan yang sudah sendirian dengan atau tanpa anak, baik anaknya sendiri atau adopsi, dan tinggal dalam sebuah rumah tangga.

  1. Fungsi Keluarga

Menurut Friedman (1998, dalam Suprajitno, 2004), mengemukakan ada 5 fungsi keluarga yaitu:

1)      Fungsi Afektif

Yaitu berhubungan dengan fungsi-fungsi internal keluarga, pelindung dan dukungan psikososial bagi para anggotanya. Keluarga melakukan tugas-tugas yang menunjang pertumbuhan dan perkembangan yang sehat bagi anggotanya dengan memenuhi kebutuhan-kebutuhan anggotanya.

2)      Fungsi Sosialisasi

Yaitu proses perkembangan dan perubahan yang dilalui individu melaksanakan sosialisasi dimana anggota keluarga belajar disiplin, norma budaya prilaku melalui interaksi dalam keluarga selanjutnya individu mampu berperan dalam masyarakat.

3)      Fungsi reproduksi

Yaitu fungsi untuk meneruskan kelangsungan keturunan menambah sumber daya manusia.

4)      Fungsi Ekonomi

Yaitu fungsi memenuhi kebutuhan keluarga seperti : makan, pakaian, perumahan dan lain-lain.

5)      Fungsi Perawatan Keluarga

Yaitu keluarga menyediakan makanan, pakaian, perlindungan asuhan kesehatan/perawatan, kemampuan keluarga melakukan asuhan keperawatan atau pemeliharaan kesehatan mempengaruhi status kesehatan keluarga dan individu.

Selain fungsi diatas ada beberapa fungsi keluarga yang lain menurut Effendy (1998, dalam Setiadi, 2008), yang dapat dijalankan keluarga yaitu sebagai berikut :

1)      Fungsi biologis

a)      Untuk meneruskan keturunan

b)      Memelihara dan membesarkan anak

c)      Memenuhi kebutuhan gizi keluarga

d)      Memelihara dan merawat anggota keluarga

2)      Fungsi Psikologi

a)      Memberikan kasih sayang dan rasa aman

b)      Memberikan perhatian diantara anggota keluarga

c)      Membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga

d)      Memberikan identitas keluarga

3)      Fungsi Sosiologi

a)      Membina sosialisasi pada anak

b)      Membantu norma-norma tingkah laku sesuai dengan tingkat perkembangan anak.

c)      Meneruskan nilai-nilai budaya keluarga

4)      Fungsi Ekonomi

a)      Mencari sumber-sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

b)      Pengaturan penggunaan penghasilan keluarga untuk memenuhi kebutuhan lingkungan.

c)      Menabung untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga dimana yang akan datang, misalnya : pendidikan anak-anak, jaminan hari tua dan sebagainya.

5)      Fungsi Pendidikan

a)       Menyekolahkan anak untuk memberikan pengetahuan, keterampilan dan membentuk perilaku anak sesuai dengan bakat dan minat yang dimilikinya.

b)      Mempersiapkan anak untuk kehidupan dewasa yang akan datang dalam memenuhi perannya sebagai orang dewasa.

c)       Mendidik anak sesuai dengan tingkat perkembangan

  1. Tipe Keluarga

1)      Tipe-tipe keluarga secara umum dikemukakan untuk mempermudah tentang pemahaman keluarga. Adapun tipe-tipe keluarga menurut Suprajitno (2004) antara lain:

a)      Keluarga inti (konjungal)

Yaitu keluarga yang menikah sebagai orangtua atau pemberian nafkah, keluarga ini terdiri dari suami, istri dan anak mereka anak kandung, anak adopsi atau keduanya.

b)      Keluarga orentasi (keluarga asal)

Yaitu untuk keluarga yang didalamnya seseorang dilahirkan.

c)   Keluarga besar

Yaitu keluarga inti dan orang-orang yang berhubungan (oleh    darah), yang paling lazim menjadi anggota keluarga orientasi yaitu salah satu teman keluarga ini. Berikut ini termasuk sanak keluarga: kakek, nenek, tante, paman dan sepupu.

  1. Tipe/Bentuk Keluarga

Ada enam tipe atau bentuk keluarga menurut Effendy (1998)

a)      Keluarga inti (Nuclear Family)

Adalah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak.

b)      Keluarga besar (Exstende Family)

Adalah keluarga inti ditambah dengan sanak saudara misalnya, nenek, kakek, keponakan, saudara sepupu, paman, bibi dan sebagainya.

c)      Keluarga berantai (Serial family)

Adalah keluarga yang terdiri dari wanita dan pria yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan satu keluarga inti.

d)      Keluarga duda/janda (single family)

Adalah keluarga yang terjadi karena perceraian atau kematian.

e)      Keluarga berkomposisi (composite)

Adalah keluarga yang perkawinannya berpoligami dan hidup secara bersama.

f)        Keluarga kabitas (cababitation)

Adalah dua orang menjadi satu tanpa pernikahan tetapi membentuk suatu keluarga.

 

  1. Tingkat Perkembangan Keluarga

Seperti individu yang mengalami tahap pertumbuhan dan perkembangan yang berturut-turut keluarga sebagai sebuah unit juga mengalami tahap-tahap perkembangan yang berturut-turut.

Adapun delapan tahap siklus kehidupan keluarga menurut Friedman (1998) antara lain:

1)      Tahap I : keluarga pemula (juga menunjuk pasangan menikah atau tahap pernikahan)

Tugasnya adalah :

a)      Membangun perkawinan yang saling memuaskan

b)      Menghubungkan jaringan persaudaraan secara harmonis

c)      Keluarga berencana (keputusan tentang kedudukan sebagai orang tua)

2)      Tahap II : keluarga yang sedang mengasuh anak (anak tertua adalah bayi sampai umur 30 tahun)

Tugasnya adalah :

a)      Membentuk keluarga muda sebagai sebuah unit yang mantap

b)      Rekonsiliasi tugas untuk perkembangan yang bertentangan dan kebutuhan anggota keluarga

c)      Mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan

d)      Memperluas persahabatan dengan keluarga besar dengan menambahkan peran-peran orang tua dan kakek dan nenek.

3)      Tahap III : keluarga dengan anak usia prasekolah (anak tertua berumur 2 hingga 6 bulan)

Tugasnya adalah :

a)      Memenuhi kebutuhan anggota keluarga seperti : rumah, ruang bermain, privasi, keamanan.

b)      Mensosialisasikan anak.

c)      Mengintegrasikan anak yang sementara tetap memenuhi kebutuhan anak-anak yang lain.

d)      Mempertahankan hubungan yang sehat dalam (hubungan perkawinan dan hubungan orang tua dan anak) dan diluar keluarga (keluarga besar dan komunitas).

4)      Tahap IV : keluarga dengan anak usia sekolah (anak tertua berumur hingga 13 tahun)

Tugasnya adalah :

a)      Mensosialisasikan anak-anak termasuk meningkatkan  prestasi sekolah dan mengembangkan hubungan dengan teman sebaya yang sehat.

b)      Mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan.

c)      Memenuhi kebutuhan kesehatan fisik anggota keluarga.

5)      Tahap V : Keluarga dengan anak remaja (anak tertua berumur 13 hingga 20 tahun)

Tugasnya :

a)      Menyeimbangkan kebebasan dengan tanggung jawab ketika remaja menjadi dewasa dan semakin mandiri.

b)      Memfokuskan kembali hubungan perkawinan.

c)      Berkomunikasi secara terbuka antara orang tua dan anak-anak.

6)      Tahap VI : keluarga yang melepaskan anak usia dewasa muda (mencakup anak pertama sampai terakhir yang meninggalkan rumah)

Tugasnya :

a)      Memperluas siklus keluarga dengan memasukkan anggota keluarga baru yang didapatkan melalui perkawinan anak-anak.

b)      Melanjutkan untuk memperbaharui dan menyesuaikan kembali hubungan perkawinan.

c)      Membantu orang tua lanjut usia dan sakit-sakitan dan suami maupun istri.

7)      Tahap VII : Orang tua usia pertengahan (tanpa jabatan, pensiunan)

Tugasnya :

a)      Menyelidiki lingkungan yang meningkatkan kesehatan

b)      Mempertahankan hubungan-hubungan yang memuaskan dan penuh arti dengan para orang tua, lansia dan anak-anak.

 

8)      Tahap VIII : keluarga dalam masa pensiunan dan lansia

Tugasnya :

a)      Mempertahankan pengaturan hidup yang memuaskan

b)      Menyesuaikan terhadap pendapatan yang menurun

c)      Mempertahankan hubungan perkawinan

d)      Menyesuaikan diri terhadap kehilangan pasangan

e)      Mempertahankan ikatan keluarga antara generasi

f)        Meneruskan untuk memahami eksistensi mereka

  1. Lima Tugas Keluarga dan Bidang Kesehatan

Seperti dengan fungsi pemeliharaan kesehatan, keluarga mempunyai tugas dibidang kesehatan menurut Suprajitno (2004)  yang perlu dipahami dan dilakukan meliputi :

1)    Mengenal masalah kesehatan keluarga

Kesehatan merupakan kebutuhan keluarga yang tidak boleh diabaikan karena tanpa kesehatan segala sesuatu tidak akan berarti, orang tua perlu mengenal kesehatan.

2)   Memutuskan tindakan yang tepat bagi keluarga yang utama untuk mencari pertolongan yang tepat sesuai dengan keadaan keluarga, dengan pertimbangan siapa diantara keluarga yang mempunyai kemampuan memutuskan untuk menentukan tindakan keluarga.

 

3)      Merawat keluarga yang mengalami gangguan kesehatan

Perawatan dapat dilakukan di institusi pelayanan kesehatan atau di rumah apabila keluarga telah memiliki kemampuan melakukan tindakan untuk pertolongan pertama.

4)      Memodifikasi lingkungan keluarga untuk menjamin kesehatan keluarga.

5)      Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan disekitarnya bagi keluarga.

 

  1. 1.      Konsep Dasar TBC
    1. Pengertian

1)      Penyakit TB Paru  adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis yang menyerang paru-paru dan dapat juga mengenai organ tubuh lainnya (Depkes RI , 2002)

2)      TB Paru adalah suatu penyakit menular kronis yang disebabkan oleh kuman Mycobakterium tuberculosis yang menyerang paru-paru dan organ lain ditandai dengan batuk-batuk lebih dari tiga minggu, batuk darah, demam nyeri dada dan sesak nafas bila penyakit  sudah lanjut. (Suyono. S, 2001, hal 820).

3)       TB Paru adalah penyakit infeksi kronis (menahun) yang disebabkan oleh kuman Mycobakterium tuberculosis, dan biasanya terdapat pada paru-paru,tetapi mungkin juga pada organ tubuh lainnya. (Misnadiarly , 2006)

4)      Tuberkulosis adalah penyakit akibat infeksi kuman Mycobakterium tuberculosis sistemis sehingga dapat mengenai hampir semua organ tubuh, dengan lokasi terbanyak di paru yang biasanya merupakan lokasi infeksi primer. (Mansjoer. A, 2000)

  1. Patofisiologi

Penyakit TB paru disebabkan oleh kuman mycobacterium tuberculosis yang menyerang orang sehat melalui droplet atau percikan dahak pada waktu penderita batuk bersin atau berbicara. Mycobacterium tuberculosis masuk kedalam saluran pernafasan meningkatkan reaksi radang sehingga leukosit polimofonuklear memfagosit bakteri tapi tidak dibunuh, alveoli mengalami konsolidasi dan timbul gejala pneumonia akut bila berlanjut bakteri akan berkembang biak dalam sel makrofag mengadakan infiltrasi membentuk sel tuberkel kurang lebih 10-20 hari terjadi nekrosis koseosa menjadi mencair dalam bronkus timbulkan kavitas kemudian melepas materi tuberkel kuman masuk cabang trakeobronkial menyebar melalui getah bening dan pembuluh darah menyebar ke usus, ke laring, ke hati, ke ginjal. Tanda dan gejala yang biasanya dikeluhkan pasien dalam penyakit TB paru yaitu batuk berdahak lebih dari 3 minggu, batuk berdarah, demam lebih dari 1 bulan, berkeringat pada malam hari, nyeri dada nafsu makan menurun dan BB menurun. Klien tidak menutup mulut saat batuk, tampak tempat dahak klien tidak tertutup serta tidak memakai desinfektan akan terjadi resiko penularan sedangkan pasien juga mengeluh gelisah yang disebabkan oleh kurangnya pengetahuan keluarga dan ansietas ditandai dengan adanya keluarga bertanya-tanya tentang penyebab TB paru, tanda gejala, cara pencegahan dan cara pengobatan TB paru, dimana dapat mengakibatkan penatalaksanaan pemeliharaan rumah tidak efektif berhubungan dengan keadaan kamar lembab, kurang pencahayaan, barang-barang dikamar tampak berantakan dan kotor, lama kelamaan apabila penyakit TB paru ini tidak ditanggulangi maka akan menimbulkan berbagai komplikasi seperti : pnemothorak spontan, hemaptisis, akibat retraksi bronkiektasis, fibrosis paru dan insufisiensi kardiopulmonal. (Price, A  2005)

 

  1. Pemeriksaan Diagnostik

Menurut Depkes RI (2002) ada tiga jenis pemeriksaan untuk TB paru yaitu :

1)      Pemeriksaan sputum BTA

Diagnosa TB paru pada orang dewasa dapat ditegakkan dengan ditemukan BTA pada pemeriksaan dahak secara mikroskopis. Hasil pemeriksaan dirinya akan positif apabila sedikitnya 2 dan 3 sputum SPS (Sewaktu Pagi Sewaktu) BTA positif. Pemeriksaan sputum juga dapat memberikan evaluasi terhadap pengobatan yang sudah diberikan.

2)      Rontgen

Foto rontgen dada dapat menunjang menegakkan diagnosa TB. Paling mungkin bila ditemukan infiltrat dengan pembesaran kelenjar hilus atau kelenjar paratrakeal. Gejala lain dari foto rontgen yang mencurigai TB adalah :

a)      Atelektasis

b)      Infiltrat dengan pembesaran kelenjar hilus / paratrakeal

c)      Iconsolidasi (lobus)

d)      Reaksi pleura atau efusi pleura

e)      Bronkiektasis

f)        Destroyed lung

3)      Tes Montoux / Tuberculin

Tes ini sering digunakan untuk membantu menegakkan diagnosa TB paru anak-anak. Biasanya dipakai montoux tes dengan menyuntikkan 0,1 cc tuberkulin secara intrakutan. Pembacaan dilakukan 48-72 jam setelah penyuntikan.

  1. Penatalaksanaan Medis

Penanggulangan TB paru menurut Depkes RI (2002) adalah dengan menggunakan obat anti TB (OAT).Dimana tujuan pemberian OAT adalah :

1)      Membuat konversi sputum BTA positif menjadi negatif secepat mungkin melalui kegiatan bakterisid.

2)      Mencegah kekambuhan dalam tahun pertama setelah pengobatan dengan kegiatan sterilisasi.

3)      Menghilangkan atau mengurangi gejala dan lesi melalui perbaikan daya tahan imunologis.

Menurut Depkes RI (2002) pengobatan TB dilakukan melalui 2 fase yaitu :

1)      Fase Awal Intensif

Pada tahap intensif (awal) penderita mendapat obat setiap hari dan diawasi langsung untuk mencegah terjadinya kekebalan terhadap semua OAT. Terutama rifampicin.Bila pengobatan tahap intensif diberikan secara tepat,biasanya penderita menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu.Sebagian besar penderita TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) pada akhir pengobatan intensif.

2)      Tahap lanjutan

Pada tahap lanjutan penderita mendapat jenis obatlebih sedikit, namun dalam jangka waktu yang lebih lama.OAT yang bisa digunakan antara lain isoniasid (INH), rifampisin (R), pirasinamid (Z) dan Streptomicin (S) yang bersifat bakterisid dan etambutol (E) yang bersifat bakteriostatik. Penatalaksanaan medis pada penderita  TB yang diberikan dalam kombinasi dan beberapa jenis obat dalam jumlah yang cukup. Dosis yang tepat diberikan selama 6-8 bulan supaya kuman dapat terbunuh. Adapun panduan OAT Ysng digunakan adalah : OAT kategori I.II.III serta panduan obat sisispan, indikasi dan komposisi obat TB paru adalah :

a)      Kategori I (2 HRZE / 4  H3R3)

(1)   Indikasi :

(a)    (a)Penderita baru TB paru BTA positif

(b)   (b)Penderita TB paru BTA negatif rontgen positif yang sakit berat

(c)    (c)Penderita TB exstra paru
kalau mau download file yang lengkap klik disini …ok..!!!
konsep teori tb
SATUAN ACARA PENYULUHAN tb
suwartini (Brosur TBC)
(gambar penderita tb)

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s